Dini Inayati Soroti Jumlah Anak Putus Sekolah, Serapan Anggaran, hingga Kasus Bullying di Sekolah pada Pansus LKPJ Wali Kota Semarang
SEMARANG - Dini Inayati Anggota Dewan Perempuan Komisi C DPRD Kota Semarang Jawa Tengah Fraksi PKS Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Semarang III Wakil Rakyat Tembalang dan Candisari menyoroti berbagai persoalan di sektor pendidikan dalam Rapat Pansus LKPJ Wali Kota Semarang 2025, Kamis (9/4).
Salah satu yang menjadi perhatian adalah capaian tingkat partisipasi pendidikan dasar dan menengah sebesar 89,93 persen. Menurut Dini, angka tersebut perlu dijabarkan lebih rinci dalam bentuk jumlah riil anak yang tidak bersekolah.
“Persentase itu harus diterjemahkan ke angka nominal. Berapa anak yang putus sekolah? Ini penting agar kebijakan benar-benar menyasar individu,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan apakah sudah dilakukan audit mendalam terkait penyebab anak putus sekolah. Menurutnya, data berbasis nama dan alamat (by name by address) sangat penting untuk memastikan intervensi tepat sasaran.
“Apakah sudah diaudit kenapa mereka putus sekolah? Apakah karena jarak, biaya, atau faktor lain? Tanpa data detail, intervensi tidak akan efektif,” tegasnya.
Selain itu, Dini menyoroti serapan anggaran Dinas Pendidikan yang belum maksimal, sementara masih terdapat sekolah dengan kondisi bangunan yang belum baik. Capaian kondisi bangunan sekolah dalam kategori baik tercatat sebesar 95,23 persen.
“Artinya Masih ada sekolah yang kondisinya belum baik. Itu ada berapa dan tersebar di mana? Kenapa tidak difokuskan ke sana, padahal masih ada sisa anggaran?” katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengangkat isu perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Dini menilai perlu adanya audit khusus terkait kekerasan di sekolah, baik antar siswa maupun yang melibatkan guru.
“Berapa kasus bullying di sekolah? Ini harus ada datanya. Penanganannya juga harus berbeda dan berbasis audit, agar program yang dihadrkan bisa tepat sasaran,” ujarnya.
