Cegah Timbunan Sampah dan Kontainer Rusak, Dini Inayati Ajak Masyarakat Budidaya Magot

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Dini Inayati, menegaskan perlunya model pengelolaan sampah yang murah, sederhana, dan dapat diterapkan langsung oleh warga. Hal tersebut ia sampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Sampah pada Rabu, 10 Desember 2025 di Aula Kantor Kecamatan Candisari.

Dalam forum itu, Dini menekankan bahwa persoalan sampah di Semarang tidak hanya bisa diselesaikan dengan menambah armada atau memperluas kapasitas TPS dan TPA, tetapi harus dimulai dari pengurangan sampah di sumbernya. Salah satu model yang dinilai paling efektif adalah pengolahan sampah organik menggunakan magot (larva Black Soldier Fly/BSF).

Pengurangan Sampah dari Sumbernya

Menurut Dini, setiap harinya sampah Kota Semarang bisa mencapai 1,2 ton dan Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan anggaran besar untuk mengangkut sampah dari TPS ke TPA itupun masih banyak aduan kontainer di TPS yang penuh dan belum sempat diangkut karena waktu tunggu untuk bisa menumpahkan sampah di TPA bisa mencapai 2 jam.

Pemisahan sampah organik merupakan kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah modern. Sampah organik rumah tangga jika dibiarkan membusuk akan menghasilkan air lindi, cairan berbau menyengat yang juga menjadi penyebab cepatnya korosi pada kontainer dan armada pengangkut sampah.

Air lindi itu yang membuat kontainer cepat rusak. Kalau organik dipisah dan tidak masuk kontainer, usia pakai armada bisa jauh lebih panjang,” jelasnya.

Dini menambahkan bahwa pemisahan sampah organik tidak hanya berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga dapat mengurangi beban operasional pemerintah sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi warga.

Magot sebagai Solusi Praktis dan Ekonomis

Dalam pemaparannya, Dini menyebut bahwa budidaya magot adalah metode murah dan sederhana yang dapat dilakukan skala rumah tangga hingga RT/RW. Sampah organik seperti sisa sayuran, nasi, atau buah menjadi bahan pakan utama magot, yang dalam beberapa hari akan terurai tanpa menimbulkan bau.

Magot itu cepat mengurai sampah. Tidak perlu alat mahal, cukup wadah sederhana saja sudah bisa jalan. Dan hasil panennya bisa dijual sebagai pakan unggas atau ikan,” ujarnya.

Dini juga menyampaikan komitmennya untuk memfasilitasi warga yang ingin belajar langsung mengenai teknik budidaya magot. Ia mengaku sudah pernah membawa satu RW belajar ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan mengadakan studi banding ke wilayah yang berhasil mengimplementasikan pengeleloaan sampah yang baik.

Dalam forum FGD, Dini mengajak seluruh peserta, pengurus RT/RW, dan komunitas masyarakat untuk mulai mengadopsi pola pengelolaan sampah berbasis pemilahan dan budidaya magot.