Sumpah Pemuda 2026, Dini Inayati Dorong Anak Muda Naik Level: Berkarya, Peduli, dan Berdampak


SEMARANG — Dini Inayati Anggota DPRD Kota Semarang Fraksi PKS dalam kesempatannya mengatakan Momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi pengingat penting bagi generasi muda untuk mengambil peran nyata dalam pembangunan bangsa.  Dini mendorong pemuda agar tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi tampil sebagai penggerak solusi di tengah masyarakat.

Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, peringatan Sumpah Pemuda tahun ini dinilai relevan dengan tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, dan kebutuhan untuk memperkuat solidaritas masyarakat.

Menurut Dini, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup diwujudkan melalui seremoni dan slogan kebangsaan. Nilai persatuan perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata melalui karya, kepedulian sosial, integritas, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

“Pemuda harus patriotik dalam mencintai bangsanya, gigih dalam memperjuangkan cita-cita, dan berempati terhadap persoalan masyarakat. Sumpah Pemuda harus kita maknai sebagai tanggung jawab untuk menghadirkan perubahan nyata,” ujarnya.

Jangan Sampai Pemuda Dikendalikan Arus Media Sosial

Dini menyoroti tantangan generasi muda dalam menghadapi derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial. Menurutnya, kemudahan akses informasi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, pengendalian diri, serta karakter yang kuat.

Dini juga mengingatkan, “Jadi pemuda jangan mau disetir media sosial. Kitalah yang harus mengendalikan media sosial, bukan sebaliknya.”

Ia berharap media sosial dan teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, mengembangkan kreativitas, membangun jejaring, merintis usaha, serta menyebarkan konten positif yang menginspirasi masyarakat.

Baginya, kemajuan digital harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai, kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak mulia. Kecakapan teknologi perlu ditopang kematangan karakter agar generasi muda tidak mudah terombang-ambing oleh tren maupun informasi yang belum terverifikasi.

Pemuda Harus Punya Ruang untuk Bertumbuh dan Berkontribusi

Lebih lanjut, Dini menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, organisasi kepemudaan, dan dunia usaha untuk memperkuat ekosistem pengembangan pemuda.

Pemuda membutuhkan ruang aktualisasi, kesempatan belajar, pendampingan, serta akses terhadap kegiatan produktif. Pengembangan kepemudaan juga perlu memberi perhatian pada kepemimpinan, kewirausahaan, literasi digital, kepedulian lingkungan, dan aksi sosial.

Menurutnya, keberhasilan pembinaan pemuda tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, melainkan dari dampak yang dihasilkan, seperti tumbuhnya inisiatif, lahirnya karya, meningkatnya kapasitas, serta keberlanjutan gerakan sosial di masyarakat.

“Pemuda jangan hanya hebat untuk dirinya sendiri. Jadilah generasi yang mampu menggerakkan lingkungan, membantu sesama, dan menghadirkan solusi. Kita perlu membangun budaya kolaborasi, bukan berjalan sendiri-sendiri,” pesannya.

Ia juga mendorong agar pemuda diberikan kepercayaan untuk terlibat dalam proses pembangunan, termasuk menyampaikan aspirasi, mengusulkan gagasan, dan ikut mengevaluasi program yang berkaitan dengan masa depan mereka.

Menghidupkan Kembali Semangat Persatuan

Dini menilai, semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman. Jika dahulu persatuan menjadi kekuatan untuk meneguhkan identitas bangsa, kini semangat yang sama dibutuhkan untuk menghadapi disinformasi, persoalan lingkungan, kesenjangan kesempatan, dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Perbedaan latar belakang, pemikiran, maupun komunitas, menurutnya, tidak semestinya menjadi penghalang untuk bekerja bersama demi kepentingan masyarakat.

Peringatan Sumpah Pemuda 2026 diharapkan menjadi momentum bagi pemuda Kota Semarang untuk memperkuat karakter, meningkatkan kapasitas, dan memperluas kontribusi.

“Patriotisme harus terlihat dalam karya dan tanggung jawab. Kegigihan harus tampak dalam proses belajar dan berjuang. Empati harus hadir dalam kepedulian kepada sesama. Kalau nilai-nilai ini hidup dalam diri pemuda, insyaallah mereka akan menjadi kekuatan besar bagi masa depan Indonesia,” pungkasnya.